“Lewat sudah tiga hari untuk selamanya, dan kekal lah detik – detik
di dalamnya..”
Playlist saya memutar lagu dari
Float dengan judul 3 Hari Untuk Selamanya. Dan perjalanan ini saya mulai.
Perjalanan menuju Sungai Hijau di kabupaten Pangandaran, Jawa Barat..
Jumat, 20 Maret 2015. Hari yang
sudah satu bulan ini saya tunggu kedatangannya. Rencana, saya bertemu 3 sahabat
saya di Terminal Kampung Rambutan pukul 18.00, mereka naik kereta pagi dari
Semarang, lagi – lagi, begitu rencananya. Namun saya harus was – was karena 2
teman saya mengabarkan ketinggalan kereta dan terpaksa naik pesawat siang.
Kesalahan pertama pagi itu saya aminkan sebagai pertanda baik. Pada pukul 18.30
atas pertemuan yang sudah tertunda
selama lebih dari 2 tahun itu, ada rasa haru yang membuncah. Kami bercengkerama
berbagi peluk. Petri Natalia, Michael Hansen, dan Krissandhi Bima. Tiga nama
yang 3 hari kedepan akan menjadi partner hebat parjalanan saya. Sayangnya, berbagi peluk itu harus
kami bayar dengan mahal, kesalahan kedua hari itu, kami ketinggalan bis AC
terakhir ke Pangandaran. Sebagai gantinya, kami harus merelakan uang 80 ribu
kami untuk ongkos bis non AC, Gapuraning Rahayu. And.. The journey’s begin.
Setelah melewati 11 jam
perjalanan dengan 1 kali peristirahatan di Nagrek (kami tidak lewat tol
Cipularang) akhirnya pada pukul 6.12 pagi kami sampai di pool bis Gapuraning
Rahayu. Rasa lelah setelah seharian duduk di kursi bis tanpa pendingin,
terbayar ketika akhirnya kami bertemu Pak Basri, yang selanjutnya akan menjadi
privat tour leader, sekaligus ranger saat rafting di Green Canyon. Dengan
excited kami menaiki mobil pick up untuk menuju penginapan yang sudah beliau
persiapkan. Sepanjang jalan, kami disuguhkan pemandangan pantai Pamugaran yang
indah meskipun tidak dibuka untuk umum karena berkarakter curam.
![]() |
| Narsis di pick up, Wajah lelah hilang sudah! |
Penginapan kami letaknya tidak
terlalu jauh dari terminal pangandaran, hanya sekitar 20 menit. Sedikit
peregangan otot dan bersih2 ala kadarnya (tanpa mandi, karena jadwal
selanjutnya akan berjibaku dengan arus sungai), tepat pukul 8.00 kami berangkat
dengan waktu tempuh kurang lebih 1 jam, dan tentunya, kami sarapan dulu di
jalan.
Sekitar pukul 09.00, Sabtu 21
Maret 2015, sampailah kami di Cukang Taneuh, Guha Bahu, alias Green Canyon.
Sempat kaget karena suasan di pintu masuk yang ramai dan penuh pengunjung, “yang
benar saja, rafting dengan orang sebanyak ini?” tapi pertanyaan kami terjawab
kala kami digiring pak Basri menuju sekertariat Guha Bahu. Jadi ternyata, di
Green Canyon sendiri terdapat 2 jalur. Jalur pintu masuk khusus untuk yang
ingin berperahu santai melintasi sungai Green Canyon, dan jalur Guha Bau, yang
memiliki track sendiri sejauh 3 km dan akan ditempuh dengaaaann berenang daaaan
body rafting ! So Excited !
![]() |
| Sekertariat Guha Bau |
![]() |
| Perjalanan menuju post 1 Guha Bau, Peralatan lengkap, Capt ! |
Dari sekertariat Guha Bahu, kami pun di antar menuju post pertama track dengan naik mobil pick up lagi, dengan waktu tempuh sekitar 15 menit.
![]() |
| Post 1 Guha Bau |
![]() |
| Menyusuri sungai 20 menit gak terasa kala mendengar gemericik air! |
Sebagai pembuka, kami harus
meloncati sebuah batu setinggi 5 meter untuk terjun ke anak sungai Green
Canyon. Ketakutan kami buyar oleh haru melihat sungai yang hijau. Maklum, musim
hujan membuat kami agak was – was awalnya apakah sungai akan jernih. Namun nampaknya
Tuhan menjawab doa puasa kami, 2 minggu tanpa hujan di pangandaran, dan hijau
jernih itu menyambut kami.
![]() |
| Guha Bau, Konon Guha ini seringmengeluarkan bau kotoran kelelawar |
![]() |
| Bersiap loncat dari ketinggian 5 meter sebagai tantangan pertama |
![]() |
| Lets get lost ! |
![]() |
| Seger karena ada tetesan air dari batu :D |
Dan menyusuri sungai dengan
menelentangkan tubuh, mengikuti arus, memandang langit dibalik batu – batu dan
tebing yang indah, gemericik arus liar sejauh 3 km, tanpa terasa 4 jam berlalu.
Tidak habis – habisnya kami memandang kagum pada goresan tangan Tuhan pada
sungai kecil di selatan Jawa ini. Entah berapa ratus rapal doa yang saya
aminkan sepanjang menyusuri sungai. Damai..
Sampailah kami pada post Batu
Payung, sebuah batu indah menjulang setinggi 7 meter sebagai penanda tantangan
terakhir. Sayangnya Kak Petri tidak ikut tantangan terakhir kami, lelah
membuatnya menahan diri dari adrenalin hantaman air dari ketinggian 7 meter.
![]() |
| Berasa lagi privat trip karena gak ketemu rombongan lain! |
Sekitar 15 menit kemudian, perahu
kami datang khusus menjemput kami berempat, untuk selanjutnya membawa kami ke
dermaga yang merupakan pintu masuk green canyon yang kami lewati tadi pagi. Oleh
pak Basri kami diminta mandi lalu makan siang dimana sudah tersedia ruangan
khusus dan berbagai menu makanan khas sunda yang menggiurkan. Terlalu asik
menyusuri sungai membuat kami lupa pada rasa lapar ternyata.
![]() |
| Makanan khas sunda sudah tersediaaaa |
Setelah badan kembali bugar dan
kenyang, Pak Basri mengajak kami mencuri sunset di pantai Madasari,
Pangandaran. Kembali menaiki pick up, rasa excited kembali menyerang kami. Jarak
tempuh nya relatef dekat hanya sekitar 45 menit dari pintu masuk Green Canyon!
Lets goooo guuuyys !
![]() |
| Perjalanan menuju Pantai Madasari naik Pick Up lagi, happy lagi :D |
Selama perjalanan menuju pantai Madasari, mata kami dimanjakan pemandangan alam yang menakjubkan. Dan walaupun badan hampir remuk setelah seharian rafting, semua hilang ketika kami akhirnya sampai di pantai yang kalau dilihat, agak mirip sama pantai Tanah Lot, Bali.
![]() |
| Gaya loncat yang gagal, tapi pemandangannya tetep berhasil :0 |
![]() |
| Penampakan Pantai Madasari mirip Pantai Tanah Lot, Bali |
![]() |
| Feels like our privat beach :D |
Waktu menunjukan pukul 17.00, saatnya kami kembali menuju penginapan. Tiba - tiba hujan mengguyur deras, sempat terbesit ingin mengeluh karena kehujanan dari atas pick up, sebelum pak basri mengatakan "Wah kalian beruntung, teh. Hujan sore ini. Kemungkinan besok debit sunga naik. Kalian beruntung siang tadi cerah." Ahh, seketika niat mengeluh menjelma syukur yang teramat. Kami bukan hanya beruntung, kami terberkati..
Sekitar pukul 19.00 kami sampai di penginapan. Setelah mandi dan packing agar besoknya tidak terburu - buru, kami mencari makan malam. Untungnya, tepat di seberang penginapan kami adalah pasar pusat oleh - oleh pangandaran. Nasi goreng lumayan enak berhasil mengganjal perut kami.
Esoknya, Minggu, 22 Maret 2015 pukul 05.00 kami bersiap menuju terminal bis. Demi mengejar pesawat dari Soetta ke Semarang yang flight pukul 19.00, kami memilih menumpak bis paling pagi yang ternyata Non AC. Beruntungnya, bis kami ini melewati tol Cipularang, sehingga kami tiba di Kalideres lebih cepat dari perkiraan, yaitu pukul 16.00. Saya, yang seharusnya bisa langsung pulang ke Cibubur, memutuskan ikut ke tiga sahabat saya menuju Bandara Soetta untuk berbincang dan menghabiskan waktu bersama. Ah, meskipun bis Non AC, bukan yang baik bagi kami, namun ketepatan waktu ini, memberikan kami yang tebaik.
![]() |
| Pose di depan penginapan sebelum pulang. Good Bye Pangandaran ! |
Sungguh sebuah pengalaman luar biasa yang saya habiskan bersama sahabat yang luar biasa. Beberapa kali kami mengucap syukur atas berkat yang kami terima. Keterlambatan sahabat saya naik kereta, yang membuat mereka naik pesawat, ketepatan waktu dan cuaca, serta kesempatan untuk melihat sungai jernih di sudut selatan pulau Jawa.
Dan pada akhirnya, Terimakasih Tuhan, untuk pimpinanMu dalam perjalanan kami, untuk mengajari kami sesuatu tentang kehidupan, tentang pengharapan dan berserah, tentang menaklukan ketakutan, dan tentang meyakini bahwa Engkau akan tetap memberikan yang terbaik..





























