Tuesday, 31 March 2015

Ada Yang Kekal Disana, Di Tepi Sungai Cantik Green Canyon, Pangandaran.

“Lewat sudah tiga hari untuk selamanya, dan kekal lah detik – detik di dalamnya..”

Playlist saya memutar lagu dari Float dengan judul 3 Hari Untuk Selamanya. Dan perjalanan ini saya mulai. Perjalanan menuju Sungai Hijau di kabupaten Pangandaran, Jawa Barat..

Jumat, 20 Maret 2015. Hari yang sudah satu bulan ini saya tunggu kedatangannya. Rencana, saya bertemu 3 sahabat saya di Terminal Kampung Rambutan pukul 18.00, mereka naik kereta pagi dari Semarang, lagi – lagi, begitu rencananya. Namun saya harus was – was karena 2 teman saya mengabarkan ketinggalan kereta dan terpaksa naik pesawat siang. Kesalahan pertama pagi itu saya aminkan sebagai pertanda baik. Pada pukul 18.30  atas pertemuan yang sudah tertunda selama lebih dari 2 tahun itu, ada rasa haru yang membuncah. Kami bercengkerama berbagi peluk. Petri Natalia, Michael Hansen, dan Krissandhi Bima. Tiga nama yang 3 hari kedepan akan menjadi partner hebat parjalanan saya. Sayangnya, berbagi peluk itu harus kami bayar dengan mahal, kesalahan kedua hari itu, kami ketinggalan bis AC terakhir ke Pangandaran. Sebagai gantinya, kami harus merelakan uang 80 ribu kami untuk ongkos bis non AC, Gapuraning Rahayu. And.. The journey’s begin.

Setelah melewati 11 jam perjalanan dengan 1 kali peristirahatan di Nagrek (kami tidak lewat tol Cipularang) akhirnya pada pukul 6.12 pagi kami sampai di pool bis Gapuraning Rahayu. Rasa lelah setelah seharian duduk di kursi bis tanpa pendingin, terbayar ketika akhirnya kami bertemu Pak Basri, yang selanjutnya akan menjadi privat tour leader, sekaligus ranger saat rafting di Green Canyon. Dengan excited kami menaiki mobil pick up untuk menuju penginapan yang sudah beliau persiapkan. Sepanjang jalan, kami disuguhkan pemandangan pantai Pamugaran yang indah meskipun tidak dibuka untuk umum karena berkarakter curam.

Narsis di pick up, Wajah lelah hilang sudah!
Penginapan kami letaknya tidak terlalu jauh dari terminal pangandaran, hanya sekitar 20 menit. Sedikit peregangan otot dan bersih2 ala kadarnya (tanpa mandi, karena jadwal selanjutnya akan berjibaku dengan arus sungai), tepat pukul 8.00 kami berangkat dengan waktu tempuh kurang lebih 1 jam, dan tentunya, kami sarapan dulu di jalan.

Sekitar pukul 09.00, Sabtu 21 Maret 2015, sampailah kami di Cukang Taneuh, Guha Bahu, alias Green Canyon. Sempat kaget karena suasan di pintu masuk yang ramai dan penuh pengunjung, “yang benar saja, rafting dengan orang sebanyak ini?” tapi pertanyaan kami terjawab kala kami digiring pak Basri menuju sekertariat Guha Bahu. Jadi ternyata, di Green Canyon sendiri terdapat 2 jalur. Jalur pintu masuk khusus untuk yang ingin berperahu santai melintasi sungai Green Canyon, dan jalur Guha Bau, yang memiliki track sendiri sejauh 3 km dan akan ditempuh dengaaaann berenang daaaan body rafting ! So Excited ! 

Sekertariat Guha Bau
Perjalanan menuju post 1 Guha Bau, Peralatan lengkap, Capt !
Dari sekertariat Guha Bahu, kami pun di antar menuju post pertama track dengan naik mobil pick up lagi, dengan waktu tempuh sekitar 15 menit.

Post 1 Guha Bau
Dari post Guha Bahu, kami tracking sekitar 20 menit menyusuri hutan kecil yang yang asri, sayup – sayup terdengar suara gemericik air sungai..

Menyusuri sungai 20 menit gak terasa kala mendengar gemericik air!
Sebagai pembuka, kami harus meloncati sebuah batu setinggi 5 meter untuk terjun ke anak sungai Green Canyon. Ketakutan kami buyar oleh haru melihat sungai yang hijau. Maklum, musim hujan membuat kami agak was – was awalnya apakah sungai akan jernih. Namun nampaknya Tuhan menjawab doa puasa kami, 2 minggu tanpa hujan di pangandaran, dan hijau jernih itu menyambut kami.

Guha Bau, Konon Guha ini seringmengeluarkan bau kotoran kelelawar
Bersiap loncat dari ketinggian 5 meter sebagai tantangan pertama
Lets get lost !
Tantangan selanjutnya adalah kami harus terjun dari atas batu 9 meter, well, untuk kali ini, izinkan saya menahan nafas. Ketika saya memasrahkan tubuh saya jatuh dari atas batu 9 meter, yang ada dalam pikiran saya adalah “kok gak nyampe – nyampe ya?” daaaannn Buuk! Tubuh mungil saya menghantam air. Cukup memacu adrenalin. Ada lagi tantangan dimana kami harus terjun ke dalam pusaran air, mengikuti arus, menahan diri agar tidak panik. Hal – hal yang tidak pernah kami bayangkan. Ketakutan kami memang tidak beralasan. Berulang kali Pak Basri meyakinkan untuk pasrah ketika terjun karena tidak ada batu, dan berulang kali pula beliau meminta kami tidak panik ketika pusaran air itu memutar tubuh kami. “Ikuti saja alurnya.. dan jangan panik.” Lalu, apa ya yang membuat kami takut?" Ahh, dalam aplikasi kehidupan pun begitu ternyata, ketakutan memang justru datang dari diri kita sendiri. Ada kalanya yang perlu kita lakukan adalah berserah, dan tentu saja panik tidak pernah menyelesaikan masalah. Terpujilah Tuhan untuk setiap nilai kekal yang kami dapat..


Seger karena ada tetesan air dari batu :D

Tepaar hahaha
Dan menyusuri sungai dengan menelentangkan tubuh, mengikuti arus, memandang langit dibalik batu – batu dan tebing yang indah, gemericik arus liar sejauh 3 km, tanpa terasa 4 jam berlalu. Tidak habis – habisnya kami memandang kagum pada goresan tangan Tuhan pada sungai kecil di selatan Jawa ini. Entah berapa ratus rapal doa yang saya aminkan sepanjang menyusuri sungai. Damai..




Sampailah kami pada post Batu Payung, sebuah batu indah menjulang setinggi 7 meter sebagai penanda tantangan terakhir. Sayangnya Kak Petri tidak ikut tantangan terakhir kami, lelah membuatnya menahan diri dari adrenalin hantaman air dari ketinggian 7 meter.

Berasa lagi privat trip karena gak ketemu rombongan lain!

Bahkan perahu pun khusus untuk berem[at. How blessed ! :")
Sekitar 15 menit kemudian, perahu kami datang khusus menjemput kami berempat, untuk selanjutnya membawa kami ke dermaga yang merupakan pintu masuk green canyon yang kami lewati tadi pagi. Oleh pak Basri kami diminta mandi lalu makan siang dimana sudah tersedia ruangan khusus dan berbagai menu makanan khas sunda yang menggiurkan. Terlalu asik menyusuri sungai membuat kami lupa pada rasa lapar ternyata.

Makanan khas sunda sudah tersediaaaa
Setelah badan kembali bugar dan kenyang, Pak Basri mengajak kami mencuri sunset di pantai Madasari, Pangandaran. Kembali menaiki pick up, rasa excited kembali menyerang kami. Jarak tempuh nya relatef dekat hanya sekitar 45 menit dari pintu masuk Green Canyon! Lets goooo guuuyys !

Perjalanan menuju Pantai Madasari naik Pick Up lagi, happy lagi :D

Selama perjalanan menuju pantai Madasari, mata kami dimanjakan pemandangan alam yang menakjubkan. Dan walaupun badan hampir remuk setelah seharian rafting, semua hilang ketika kami akhirnya sampai di pantai yang kalau dilihat, agak mirip sama pantai Tanah Lot, Bali.

Gaya loncat yang gagal, tapi pemandangannya tetep berhasil :0
Penampakan Pantai Madasari mirip Pantai Tanah Lot, Bali
Feels like our privat beach :D
Waktu menunjukan pukul 17.00, saatnya kami kembali menuju penginapan. Tiba - tiba hujan mengguyur deras, sempat terbesit ingin mengeluh karena kehujanan dari atas pick up, sebelum pak basri mengatakan "Wah kalian beruntung, teh. Hujan sore ini. Kemungkinan besok debit sunga naik. Kalian beruntung siang tadi cerah." Ahh, seketika niat mengeluh menjelma syukur yang teramat. Kami bukan hanya beruntung, kami terberkati.. 

Sekitar pukul 19.00 kami sampai di penginapan. Setelah mandi dan packing agar besoknya tidak terburu - buru, kami mencari makan malam. Untungnya, tepat di seberang penginapan kami adalah pasar pusat oleh - oleh pangandaran. Nasi goreng lumayan enak berhasil mengganjal perut kami.

Esoknya, Minggu, 22 Maret 2015 pukul 05.00 kami bersiap menuju terminal bis. Demi mengejar pesawat dari Soetta ke Semarang yang flight pukul 19.00, kami memilih menumpak bis paling pagi yang ternyata Non AC. Beruntungnya, bis kami ini melewati tol Cipularang, sehingga kami tiba di Kalideres lebih cepat dari perkiraan, yaitu pukul 16.00. Saya, yang seharusnya bisa langsung pulang ke Cibubur, memutuskan ikut ke tiga sahabat saya menuju Bandara Soetta untuk berbincang dan menghabiskan waktu bersama. Ah, meskipun bis Non AC, bukan yang baik bagi kami, namun ketepatan waktu ini, memberikan kami yang tebaik.

Pose di depan penginapan sebelum pulang. Good Bye Pangandaran !

Sungguh sebuah pengalaman luar biasa yang saya habiskan bersama sahabat yang luar biasa. Beberapa kali kami mengucap syukur atas berkat yang kami terima. Keterlambatan sahabat saya naik kereta, yang membuat mereka naik pesawat, ketepatan waktu dan cuaca, serta kesempatan untuk melihat sungai jernih di sudut selatan pulau Jawa.





Dan pada akhirnya, Terimakasih Tuhan, untuk pimpinanMu dalam perjalanan kami, untuk mengajari kami sesuatu tentang kehidupan, tentang pengharapan dan berserah, tentang menaklukan ketakutan, dan tentang meyakini bahwa Engkau akan tetap memberikan yang terbaik..


Thursday, 7 November 2013

Mengintip Surga di Penghujung Barat Pulau Jawa

Sawarna, 17 - 19 Mei 2013

Oleh : Trias Evensia a.k.a Yeyen

Perjalanan kali ini gue namain "Mengintip Surga di Penghujung Barat Pulau Jawa". Sawarna. Sebuah pantai yang terletak di Desa Sawarna, Kecamatan Bayah, Banten ini emang terkenal eksotis sama pemandangan sunsetnya yang mewah, ombaknya yang meriah, serta pemandangan alam yang luar biasaaah.

Ekspedisi ini gue mulai dari hari Jumat tgl 17 Mei 2013. Gue sama kedua temen kantor yang emang punya hobi jalan, berangkat pukul 17.30 menuju bogor menggunakan KRL. Tiket Sudirman - Bogor waktu itu seharga 15 ribu per orang. Sampailah kita di bogor sekitar pukul 20.00. sampai di Bogor atau tepatnya di terminal Baranangsiang, kita langsung nyari bis MGI (mbuh opo singkatane), yang menuju Pelabuhan Ratu. Bis MGI jurusan Bogor - Pelabuhan Ratu non AC ini seharga 20 ribu aja. Kita termasuk penghuni bis pertama, mengingat itu bis terakhir dan akan berangkat sekitar jam 21.00.

Perjalanan Bogor - Pelabuhan Ratu ini gue isi dengan ngakak2 bareng temen kantor. Tidur? haha.. You wish. Jalan menuju pelabuhan ratu yang berkelok - kelok tajam bikin niat tidur gue urungkan. boro- boro tidur, gak mabok aja syukur. Anehnya, kita bertiga doang yang gak tidur, penumpang yang rata2 akang2 jualan yang mau pulang kampung mah woles banget tidur sampe mangap2.
Setelah menempuh perjalanan sekitar 5 jam, sampailah kami di Pelabuhan Ratu pukul 2 dini hari, Sabtu 18 Mei. Dan berhubung bis pertama menuju bayah itu baru jam 6 pagi, akhirnya kita menggelandang di Pelabuhan Ratu. Makan nasi goreng di terminal yang lumayan murah dan enak.


Subuh2 - subuh menggelandang di Pelabuhan Ratu? Yang penting poto dulu.

Akhirnya, pukul 6 Elf kami berangkat menuju Bayah. Ongkos Elf menuju Bayah 25 ribu, tapi berhubung kami hanya sampai Pintu Sawarna, hanya di kenakan tarif 20 ribu. Lama perjalanan sekitar 2 jam. Tapi bagi gue itu perjalanan yang kurang, karena sepanjang jalan Pelabuhan Ratu - Sawarna, kita bakal di suguhkan pemandangan2 yang keren banget!! Bikin gak sabar nyampe Sawarna. Nih contohnya :

Pemandangan pantai yang manjain mata sepanjang jalan Plabuhan Ratu - Bayah
Samudraaaaaa... !

Sekitar jam 8.30, sampailah kami di pintu masuk desa sawarna (sebenernya ada 2 pintu desa, pintu satunya lagi itu lebih deket menuju pantai sih, tapi itu kalo kita dari pelabuhan ratu naik Elf Sawarna, bukan Elf Bayah, sayangnya Elf pertama menuju sawarna baru berangkat jam 12 siang).

Pintu masuk Sawarna kalo kita naik Elf Bayah

Perjuangan menuju Surga Kecil Banten belum kelar! Ternyata dari situ, untuk menuju Desa Sawarna benerannya itu masih sekitar 20 menit lagi kalo naik motor! Waduh, agak nyesek kalo harus bayar ojek lagi, kami pun sempet hopeless, sampai akhirnya ada truk lewat, dan AHA! kami nyetop truk itu daaaannnn numpang! bersyukur abang2 truk nya baik, kita dianterin sampe ke jembatan gantung (jadi, patokan untuk ke desa pantai Sawarna adalah Jembatan Gantung). Ini pengalaman pertama gue sih nebeng truk menelusuri hutan.

Pertama kalinya nebeng truck gan! :D

Pemandangan dari pintu masuk menuju jembatan gantung - sawarna

Sekitar pukul 09.00, Sampailah kami tujuan! DESA SAWAARNAAAAHHHH (harus gini, biar keliatan capeknya), kami yang emang udah janjian sama pemilik cottage, dijemput sama mas2 pesuruh pemilik cottage. Wah, rasanya gak sabar pengen leyeh2 cantik di penginapan, dan mainan air di si cantik Sawarna!

muka capeeeekk, plus penasaraaann..

Jemabatan Gantung.
Sampai di cottage, gue yang emang hampir semaleman gak tidur, ngeliat kasur kaya ngeliat fauzi baadilah joget telanjang! Gak sabar pengen bobok, tapi niat itu gue urungkan, karena si cantik Sawarna gak boleh di lewatin gitu aja. Setelah membayar biaya penginapan ke ibu Widhi (si pemilik cottage yang masakannya enak banget dan ramahnya parah) kami pun siap2 mandi. Harga cottage disini ngitung nya per orang, bukan perkamar. Seorang, 1 hari 1 malem, hanya membayar 125 ribu, itu udah plus makan 3 kali. Murah! beneran deh! Kamarnya cozy juga soalnya, jarak ke pantai juga cuma sekitar 300 meter. atau kalo mau pilihan lain liat aja di http://www.pantaisawarna.com/

kamar seluas ini diisi 5 orang juga bisa. kamar mandinya juga bersih. thanks bu Widi !

abis mandi mayan lah udah bugar.
Setelah mandi dan cantik, sekitar jam 11 an kita jalan ke SAWARNA ! YIPPIEEE.. semua capek, pegel, ngantuk, HILANG MISTERIUS ! untuk menuju pantai, mata di gaji terlebih dahulu sama pemandangan sawah dan bukit, stelah jalan sekitar 300 meter, sayup2 keliatan si surga tersembunyi yang manggil2. HERE COMES THE PARADISE !

Sawaaahhh...
Jalan menuju pantainya asik!
Dan, Akhirnyaaa.. Sampailah kami di pantai yang iconic di Desa Sawarna, yap! Pantai Sawarnaaahhhh... *harus gini juga biar keliatan surprisenya* :D

Akhirnya sampai pantaaiii..
Segera berburu poto deh.
Ombaknya asik buat berselancar kata bule tetangga kamar.
Sepanjang jalan, gue gak putus2 ngabatin ngucapin kagum sama Tuhan atas ciptaannya yang sempurna ini. Tau kalo masih banyak tempat lain yang harus dijelajah di desa Sawarna, kita memutuskan jalan menuju Goa Lalay. Lalai berasal dari bahasa daerah yang artinya kelelawar. Ada banyak pilihan Goa di Desa Sawarna, tapi kami memilih Lalay yang jaraknya gak terlalu jauh dari penginapan.


Jalan menuju Goa lalay, sekitar 20 menit jalan kaki dari pantai Sawarna

Pintu Masuk Goa, kalo tanpa Guide, GRATIS ! :D
Puas main lumpur di dalam Goa, kita mutusin balik lagi ke pantai, karena udah sore, niatnya pengen makan siang, basah2an di pantai, sekalian berburu senja di Tanjung Layar (sekitar 150 meter dari pantai Sawarna).


Jalan menuju tanjung layar dari pantai Sawarna

Sore yang manis di di Sawarna :)
Tanjung Layar
Mencuri sepotong senja di balik Tanjung Layar.


Setelah puas mencuri senja hingga batas hari, gue memutuskan balik ke penginapan untuk mandi dan makan malam. Rasa kagum, dan hormat kepada sang pencipta gak pernah lepas gue ucapin berkali - kali hari itu. Alam yang sedemikian cantik membuat gue merasa semakin dekat dengan sang Pelukis Agung. Ya, alam selalu punya cara yang cantik untuk membuat manusia mengingat Tuhan. :)

Keesokan paginya (minggu, 19 Mei 2013) kita kebangun jam 6 pagi (maklum semalem tidur larut karena sempet main kartu sama bule tetangga kamar). Kita langsung cuci muka, dan berangkat ke Pantai. Penasaran menghirup wangi pantai pagi hari si desa cantik ini!

Pagi yang anggun di Tanjung Layar!
Pagi yang teduh di Sawarna!
Daaannn.. Waktu menunjukan pukul 7.30 saatnya kami kembali ke penginapan untuk mandi, sarapan, packing. Sekitar jam 9.00 kami pamit kepada bu Widi. Dengan diantar ojek menuju pintu desa, kami hanya membayar 20 ribu. Dari pintu desa kami menunggu bis ke arah pelabuhan ratu dengan membayar 20 ribu. Sekitar jam 11 siang, kami sampai di pelabuhan ratu, untuk makan siang dan melanjutkan perjalanan menuju bogor menggunakan MGI AC seharga 20 ribu.

Demikian, berakhirlah perjalanan kami ke Desa Cantik Sawarna, Banten. Beberapa kali gue tersenyum seraya membatin mengucap syukur kepada Tuhan,
untuk kesempatan mengintip surga di penghujung barat pulau jawa, Sawarna..



Terimakasih Desa Sawarna..